Dani’s Blog

welcome to my blog

sudut pandang fiqih tentang pencangkokan organ tubuh manusia (transplantasi)

PENDAHULUAN

Sekarang ini, Ilmu Kedokteran sudah sangatlah maju dan modern. Ini terbukti dengan adanya pencangkokan organ tubuh manusia, yang dilakukan oleh para dokter ahli dan ditemukan oleh dokter-dokter ahli.
Pencangkokan organ tubuh manusia dapat diartikan sebagai pengoperasian atau pemindahan bagian tubuh manusia yang rusak atau tidak berfungsi dengan normal digantikan dengan organ tubuh manusia yang normal yang sudah mati ataupun yang masih hidup . Tentunya, pemindahan ini tidak langsung dipindahkan begitu saja melainkan harus melalui proses terlebih dahulu, dari melalui proses pemeriksaan pasien, pendonor sampai ahli waris dari si mayat.
Didalam kalangan Ulama Hukum Islam, terjadi perdebatan antara yang membolehkan dengan yang mengharamkan adanya pencangkokan organ tubuh manusia (transplantasi).
Yang membolehkan, mendasarkan pendapatnya pada hajat (kebutuhan) orang yang buta untuk melihat. Maka perlu ditolong agar dapat terhindar dari kesulitan yang dialaminya. Dan yang mengharamkan mendasarkan pendapatnya pada Hadits yang berbunyi: “ Sesungguhnya pecahnya tulang mayat (bila dikoyak-koyak), seperti (sakitnya dirasakan mayat) ketika pecah tulangnya diwaktu ia masih hidup” (H.R. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah yang bersumber dari ‘Aisyah).
Untuk lebih jelasnya, kita akan membahas masalah ini lebih lanjut pada bab berikutnya.

SUDUT PANDANG FIQIH TENTANG
PENCANGKOKAN ORGAN TUBUH MANUSIA
(TRANSPLANTASI)

1. Donor Mata
a. Pengertian
Donor mata diartikan dengan pemberian kornea mata kepada orang yang membutuhkannya. Kornea mata tersebut berasal dari mayat yang telah diupayakan oleh dokter ahli, sehingga dapat digunakan oleh orang yang membutuhkannya. Karena itu, dokter Arab menerjemahkannya dengan perkataan pemindahan mata, sebagaiman terlihat pada definisi yang dirumuskan oleh Asy-Sekh Husnain Muhammad Makhluuf yang menegaskan:
“ pemindahan mata adalah memindahkan kornea mata mayat (kepada orang) hidup (yang membutuhkannya)”.

b. Hukumnya
Masalah donor mata, termasuk salah satu keberhasilan teknologi dalam Ilmu Kedokteran, yang dapat mengatasi salah satu kesulitan yang dialami oleh orang buta.
Dan yang menjadi masalah dalam hukum Islam, karena kornea mata yang dipindahkan kepada orang buta adalah berasal dari mayat. Sehingga terjadi dua pendapat dikalangan fuqaha. Ada yang mengharamkan dan adapula yang membolehkannya dengan mengemukakan alasan masing-masing .
- Bagi Ulama yang mengharamkannya, mendasarkan pendapatnya pada Hadits yang berbunyi: “ Sesungguhnya pecahnya tulang mayat (bila dikoyak-koyak), seperti (sakitnya dirasakan mayat) ketika pecah tulangnya diwaktu ia masih hidup” (H.R. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah yang bersumber dari ‘Aisyah)
- Bagi Ulama yang membolehkannya, mendasarkan pendapatnya pada hajat (kebutuhan) orang yang buta untuk melihat. Maka perlu ditolong agar dapat terhindar dari kesulitan yang dialaminya, dengan cara mendapatkan donor mata dari mayat.
Kesulitan yang dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah kebutaan, yang sebenarnya dapat diatasi dengan cara transplantasi kornea mata. Dan untuk menghindarkan manusia dari kesulitan yang dialaminya, maka Al-Qur’an memberikan petunjuk umum yang terdapat pada ayat yang berbunyi:
       
Artinya : “…..dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…….” ( Q.S. Al-Hajj : 78 )

Dalam hadits juga terdapat petunjuk umum yang berbunyi :
“ bersikap mudahlah (dalam menjalankan agama) dan janganlah engkau mempersulit” ( H.R. Ahmad dari Abu Hurairah )

Kedua nash tersebut sangat luas jangkauan maksudnya. Tidak hanya meliputi upaya-upaya untuk mencari jalan keluar bila seseorang dalam keadaan sulit, tetapi meliputi aspek-aspek soial lainnya, seprti ketidakrelaan ahli waris mayat apabila kornea mayat itu diambil untuk dipindahkan kepada orang yang membutuhkannya dan untuk menghilangkan kesulitan yang mungkin dapat dialami oleh tim dokter ketika mengambil kornea mayat, maka lebih afdhal bila calon donator mata menyatakan dirinya bersedia menyumbangkan kornea matanya bila ia meninggal . Dengan keterangan-keterangan yang dapat menjamin kepastian hukumnya, agar dikemudian hari tidak terjadi perdebatan antara tim dokter dan ahli waris mayat.

2. Cangkok Jantung

Jantung adalah organ utama sirkulasi darah, karena dialah yang memompa darah sehingga mengalir dari ventrikel kiri melalui arteri, arteriola dan kapiler lalu kembali ke atrium kanan melaui vena yang disebut peredaran darah besar atau disebut sirkulasi sistemik. Maka apabila terjadi kelainan pada jantung dapat mengganggu sirkulasi darah dan mengakibatkan kematian.
Akan tetapi dewasa ini, dapat diatasi oleh dokter ahli dengan melalui operasi pencangkokan jantung. Pencangkokan jantung adalah sebuah operasi sebelah dalamjantung yang bertujuan untuk memperbaiki atau mengganti katup jantung dengan katup mekanik buatan, atau dengan katup homograf (transplantasi dari manusia) yang diambil dari orang lain atau heterogen dari binatang, segera setelah donor itu mati.

a. Hukumnya

Penggantian katup jantung biasanya dilakukan oleh otrang dewasa yang pada umumnya sudah berumur 40-50 tahun. Yaitu penderita yang pernah terserang demam rematik atau penyakit khas lainnya, yang berakibat terjadinya penyakit jantung.
Proses pengoperasiannya dilakukan oleh dokter ahli yang dibantu oleh perawat dari ahli penyakit dalam, ahli bedah, anestesis, ahli biokimia, ahli patologi,fisioterapi, ahli tekhnik kedokteran dan sebagainya. Semuanya bekerja sesuai dengan keahliannya, dibawah pimpinan ketua tim dalam ruang perawatan khusus, yang disebut intensive care unit .
Pada dasarnya, agama Islam membolehkan pencangkokan jantung pada pasien sebagai salah satu upaya pengobatan suatu penyakit, yang sebenarnya sangat dianjurkan dalam Islam. Hanya yang jadi persoalan, karena katup jantung yang dipindahkan kedalam jantung pasien, berasal dari mayat atau binatang yang sudah mati.
Namun, para ahli hukum Islam membolehkannya. Karena hal ini dimaksudkan untuk kelangsungan hidup pasien, yang dasarnya ada pada beberapa kaidah Fiqhiyah di muka.

3. Pencangkokan Ginjal

Pencangkokan ginjal, sudah terkenal di dalam Ilmu Kedokteran modern ini. Pencangkokan ginjal sekarang ini masih diperdebatkan. Ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Namun, dalam kenyataannya banyak yang melakukan operasi pencangkokan ginjal.
Alasan para ahli hukum Islam membolehkan pencangkokan ginjal ini karena dianggap sangat dibutuhkan (hajat) dan bahkan darurat. Dan alasan yang mengharamkannya adalah karena adanya pencangkokan ginjal yang berasal dari binatang, dalam hal ini binatang babi yang sering digunakan dalam operasi pencangkokan ginjal, sedangkan dalam Islam babi termasuk binatang haram dan termasuk najis berat (mughallazhah).

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa ilmu kedokteran sekarang ini sangatlah maju dan berusaha untuk menghilangkan segala jenis kesulitan dalam mengatasi hidup.
Adanya donor mata, cangkok jantung, pencangkokan ginjal dan masih banyak lagi, ini merupakan bukti usaha manusia untuk keluar dari kesulitan. Tentunya semua operasi diatas dilakukan oleh tim dokter yang ahli.
Namun, banyak Ulama Islam yang memperdebatkanya. Ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Alasan yang membolehkannya adalah karena mendasarkan pendapatnya pada hajat (kebutuhan) orang yang menbutuhkan. Maka perlu ditolong agar dapat terhindar dari kesulitan yang dialaminya. Sedangkan Ulama yang mengharamkannya karena mendasarkan pendapatnya pada Hadits yang berbunyi: “ Sesungguhnya pecahnya tulang mayat (bila dikoyak-koyak), seperti (sakitnya dirasakan mayat) ketika pecah tulangnya diwaktu ia masih hidup” (H.R. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah yang bersumber dari ‘Aisyah).
Menurut pendapat saya selaku penulis adanya praktek operasi-operasi diatas boleh dilakukan, selama tidak menyimpang terlalu jauh dari syari’at islam dan selama dilakukan melalui prosedur hukum islam.

DAFTAR PUSTAKA

• Mahjuddin, Masailul fiqiah. Kalam Mulia. Jakarta. 2003
http://www.heriyana/org/bio
http://www.nurulhidayah/org/fiqh

About these ads

26/04/2009 - Posted by | arsip makalah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: